Kemampuan berbicara dan bercerita pada anak tidak muncul begitu saja, tetapi berkembang melalui stimulasi yang diberikan setiap hari. Anak akan lebih mudah belajar berbicara ketika ia merasa nyaman, diperhatikan, dan diajak berinteraksi dengan cara yang menyenangkan. Melalui aktivitas kreatif, anak dapat mengekspresikan pikiran, perasaan, dan imajinasinya tanpa merasa tertekan. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam menciptakan suasana bermain yang mendukung perkembangan bahasa anak (Wati, 2019).

Berikut enam aktivitas kreatif yang bisa dilakukan di rumah untuk membuat anak lebih semangat berbicara dan bercerita:
1. Bermain peran, seperti dokter-dokteran atau masak-masakan, membantu anak berlatih berbicara sesuai situasi sehari-hari.
2. Bermain boneka atau tokoh mainan membuat anak lebih berani menyampaikan cerita dan perasaannya.
3. Membaca buku lalu bercerita kembali melatih anak menyusun cerita dengan bahasanya sendiri.
4. Menggambar kemudian bercerita membantu anak menuangkan ide dan imajinasi melalui kata-kata.
5. Bernyanyi lagu anak yang memiliki cerita membantu anak mengenal kosakata dan alur cerita.
6. Bermain tebak gambar atau benda melatih anak menjawab pertanyaan dan menyebutkan kata dengan lebih percaya diri.

Melalui aktivitas-aktivitas sederhana ini, anak akan terbiasa berbicara dan bercerita dalam suasana yang menyenangkan. Orang tua tidak perlu menuntut anak berbicara dengan sempurna, karena setiap usaha kecil yang dilakukan anak sudah merupakan proses belajar. Dengan pendampingan yang sabar, pujian yang tulus, dan interaksi yang hangat, kemampuan bahasa anak akan berkembang secara alami dan anak pun semakin percaya diri dalam berkomunikasi (Sapriani& Depalina, 2025).

Referensi
Sapriani, S., & Depalina, S. (2025). Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Percakapan Sehari-hari. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Anak Usia Dini, 1(4), 151-164.
Wati, H. R. (2019). Stimulasi Kemampuan Berbicara Anak di PAUD Solok Selatan Sejahtera. Golden Age: Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang Anak Usia Dini, 4(2), 51-60.