Seratus hari pertama setelah melahirkan merupakan masa transisi besar bagi ibu, baik secara fisik maupun psikologis. Perubahan hormon, kurang tidur, serta tuntutan peran baru dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, hingga depresi pascapersalinan. Penelitian oleh Greiny dan Noordiati (2021) menunjukkan bahwa periode awal pasca melahirkan merupakan fase paling rentan terhadap gangguan kesehatan mental pada ibu.

Salah satu langkah penting menjaga kesehatan mental ibu baru adalah mendapatkan dukungan sosial yang cukup. Dukungan dari pasangan, keluarga, dan lingkungan sekitar terbukti dapat menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam merawat bayi. Studi Priansiska dan Aprina (2024) menemukan bahwa dukungan emosional yang konsisten berperan signifikan dalam pencegahan depresi pascapersalinan.

Selain itu, ibu perlu memberi ruang untuk perawatan diri (self-care), meskipun dalam bentuk sederhana seperti istirahat singkat, makan teratur, atau berbagi cerita dengan orang terdekat. Kurang tidur yang berkepanjangan diketahui berhubungan dengan meningkatnya gejala depresi dan kelelahan emosional pada ibu baru (Priansiska & Aprina, 2024).

Apabila ibu mulai merasakan kesedihan berkepanjangan, mudah marah, atau kehilangan minat dalam aktivitas sehari-hari, penting untuk segera mencari bantuan profesional. Deteksi dan penanganan dini terbukti dapat mempercepat pemulihan dan meningkatkan kualitas hidup ibu serta hubungan ibu–bayi. Menjaga kesehatan mental ibu di 100 hari pertama bukan hanya tentang ibu itu sendiri, tetapi juga tentang tumbuh kembang bayi yang optimal.

Referensi
Greiny Arisani, G. A., & Noordiati, N. (2021). Hubungan kecemasan, cara persalinan dan onset laktasi dengan kejadian postpartum blues. Jurnal Kebidanan, 10(2), 149-160.
Priansiska, N., & Aprina, H. (2024). Psikologi Pada Ibu Nifas. Penerbit Nem.