Masa menyusui merupakan periode penting bagi ibu dan bayi karena zat gizi yang dikonsumsi ibu dapat memengaruhi kualitas ASI dan kenyamanan bayi. Beberapa jenis makanan diketahui dapat memicu reaksi tertentu pada bayi, seperti kolik, rewel, atau gangguan pencernaan. Penelitian oleh Waty (2022) menunjukkan bahwa senyawa rasa dan aroma dari makanan ibu dapat berpindah ke ASI dan memengaruhi respons bayi.
Salah satu kelompok makanan yang perlu diwaspadai adalah makanan pedas, berkafein, dan beraroma kuat, seperti cabai, kopi, cokelat, dan bawang. Kandungan kafein dalam ASI, meskipun rendah, dapat menyebabkan bayi menjadi lebih gelisah dan sulit tidur jika dikonsumsi berlebihan oleh ibu. Waty (2022) melaporkan bahwa asupan kafein tinggi pada ibu menyusui berhubungan dengan peningkatan iritabilitas pada bayi.
Selain itu, produk susu sapi dan makanan pemicu alergi seperti telur, kacang, dan makanan laut dapat menimbulkan reaksi pada sebagian bayi yang sensitif. Reaksi ini dapat berupa ruam kulit, muntah, atau diare. Menurut Sayekti (2021), protein susu sapi merupakan salah satu alergen paling umum yang dapat memicu gejala intoleransi pada bayi melalui ASI.
Meskipun demikian, tidak semua bayi akan bereaksi sama terhadap makanan tertentu. Ibu menyusui dianjurkan untuk mengamati respons bayi setelah mengonsumsi makanan tertentu dan menjaga pola makan seimbang. Dengan mengenali makanan pemicu sejak dini, ibu dapat membantu menjaga kenyamanan bayi sekaligus mendukung keberhasilan menyusui.
Referensi
Sayekti, L. M. R. (2021). Perancangan Buku Panduan Memahami Penyebab Alergi Susu Sapi Melalui Media Buku Ilustrasi (Doctoral dissertation, Univeristas Komputer Indonesia).
Waty, S. N. (2022). Faktor Makanan Dan Minuman Yang Mempengaruhi Produksi Asi (Study Literatur) (Doctoral dissertation, Poltekkes Tanjungkarang).
Salah satu kelompok makanan yang perlu diwaspadai adalah makanan pedas, berkafein, dan beraroma kuat, seperti cabai, kopi, cokelat, dan bawang. Kandungan kafein dalam ASI, meskipun rendah, dapat menyebabkan bayi menjadi lebih gelisah dan sulit tidur jika dikonsumsi berlebihan oleh ibu. Waty (2022) melaporkan bahwa asupan kafein tinggi pada ibu menyusui berhubungan dengan peningkatan iritabilitas pada bayi.
Selain itu, produk susu sapi dan makanan pemicu alergi seperti telur, kacang, dan makanan laut dapat menimbulkan reaksi pada sebagian bayi yang sensitif. Reaksi ini dapat berupa ruam kulit, muntah, atau diare. Menurut Sayekti (2021), protein susu sapi merupakan salah satu alergen paling umum yang dapat memicu gejala intoleransi pada bayi melalui ASI.
Meskipun demikian, tidak semua bayi akan bereaksi sama terhadap makanan tertentu. Ibu menyusui dianjurkan untuk mengamati respons bayi setelah mengonsumsi makanan tertentu dan menjaga pola makan seimbang. Dengan mengenali makanan pemicu sejak dini, ibu dapat membantu menjaga kenyamanan bayi sekaligus mendukung keberhasilan menyusui.
Referensi
Sayekti, L. M. R. (2021). Perancangan Buku Panduan Memahami Penyebab Alergi Susu Sapi Melalui Media Buku Ilustrasi (Doctoral dissertation, Univeristas Komputer Indonesia).
Waty, S. N. (2022). Faktor Makanan Dan Minuman Yang Mempengaruhi Produksi Asi (Study Literatur) (Doctoral dissertation, Poltekkes Tanjungkarang).
