Minggu pertama setelah kelahiran adalah fase penting sekaligus menantang bagi ibu baru yang mulai belajar menyusui. Pada masa ini, tubuh masih dalam proses pemulihan, ASI sedang menyesuaikan produksinya, dan bayi juga sedang belajar mengisap dengan benar. Kondisi ini sering membuat banyak ibu merasa stres, ragu, atau bahkan khawatir tidak dapat memberikan ASI yang cukup. Menurut penelitian oleh Hani (2023), minggu pertama merupakan periode paling krusial karena hampir 60% masalah menyusui muncul pada masa ini, mulai dari pelekatan yang tidak tepat hingga payudara bengkak.
Salah satu tantangan umum adalah pelekatan (latch) yang kurang tepat. Ketika pelekatan tidak optimal, bayi sulit mendapatkan ASI, dan ibu dapat mengalami puting lecet atau nyeri. Cara mengatasinya adalah memastikan mulut bayi terbuka lebar, dagu menempel pada payudara, dan sebagian besar areola masuk ke mulut bayi. Studi oleh Sudarmi et al (2025) menunjukkan bahwa pelatihan pelekatan yang benar secara signifikan menurunkan risiko nyeri pada puting dan meningkatkan keberhasilan menyusui eksklusif pada minggu-minggu pertama.
Selain itu, banyak ibu mengalami payudara bengkak (engorgement) karena peningkatan produksi ASI setelah hari ke-2 hingga ke-4. Kondisi ini bisa membuat payudara terasa keras, panas, dan nyeri. Ibu dapat mengatasinya dengan menyusui lebih sering, mengompres hangat sebelum menyusui, dan mengompres dingin setelahnya. Jika bayi sulit melekat karena payudara terlalu penuh, perah sedikit ASI terlebih dahulu. Penelitian oleh Meldiyani (2024) menemukan bahwa frekuensi menyusui yang teratur pada minggu pertama dapat membantu menstabilkan produksi ASI dan mencegah pembengkakan yang berlebihan.
Tantangan lainnya adalah rasa lelah dan tekanan mental. Ibu sering kurang tidur, menghadapi perubahan hormon, dan merasa kewalahan dengan rutinitas baru. Dukungan pasangan, keluarga, dan konselor laktasi sangat membantu meringankan beban emosional. Mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan juga meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam menyusui. Dengan kesabaran, dukungan penuh kasih, serta penanganan yang tepat, minggu pertama menyusui dapat dilalui dengan lebih nyaman hingga akhirnya menjadi pengalaman yang menyenangkan untuk ibu dan bayi.
Referensi
Hani, A. (2023). Penerapan Teknik Pelekatan Untuk Keberhasilan Menyusui (Doctoral dissertation, Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang).
Sudarmi, S., Rumintang, B. I., Anggraeni, N. P. D. A., & Halimatussyaadiah, S. (2025). Pelayanan Antenatal Terpadu Dengan Praktek Konseling Menyusui Meningkatkan Keberhasilan Menyusui Eksklusif.
Meldiyani, S. (2024). Penerapan Teknik Menyusui Dan Pelekatan Yang Tepat Untuk Keberhasilan Menyusui Terhadap Ny. K DI PMBJilly Punnica S. Tr. Keb Kabupaten Lampung SelatanTahun 2024 (Doctoral dissertation, Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang).
Salah satu tantangan umum adalah pelekatan (latch) yang kurang tepat. Ketika pelekatan tidak optimal, bayi sulit mendapatkan ASI, dan ibu dapat mengalami puting lecet atau nyeri. Cara mengatasinya adalah memastikan mulut bayi terbuka lebar, dagu menempel pada payudara, dan sebagian besar areola masuk ke mulut bayi. Studi oleh Sudarmi et al (2025) menunjukkan bahwa pelatihan pelekatan yang benar secara signifikan menurunkan risiko nyeri pada puting dan meningkatkan keberhasilan menyusui eksklusif pada minggu-minggu pertama.
Selain itu, banyak ibu mengalami payudara bengkak (engorgement) karena peningkatan produksi ASI setelah hari ke-2 hingga ke-4. Kondisi ini bisa membuat payudara terasa keras, panas, dan nyeri. Ibu dapat mengatasinya dengan menyusui lebih sering, mengompres hangat sebelum menyusui, dan mengompres dingin setelahnya. Jika bayi sulit melekat karena payudara terlalu penuh, perah sedikit ASI terlebih dahulu. Penelitian oleh Meldiyani (2024) menemukan bahwa frekuensi menyusui yang teratur pada minggu pertama dapat membantu menstabilkan produksi ASI dan mencegah pembengkakan yang berlebihan.
Tantangan lainnya adalah rasa lelah dan tekanan mental. Ibu sering kurang tidur, menghadapi perubahan hormon, dan merasa kewalahan dengan rutinitas baru. Dukungan pasangan, keluarga, dan konselor laktasi sangat membantu meringankan beban emosional. Mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan juga meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam menyusui. Dengan kesabaran, dukungan penuh kasih, serta penanganan yang tepat, minggu pertama menyusui dapat dilalui dengan lebih nyaman hingga akhirnya menjadi pengalaman yang menyenangkan untuk ibu dan bayi.
Referensi
Hani, A. (2023). Penerapan Teknik Pelekatan Untuk Keberhasilan Menyusui (Doctoral dissertation, Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang).
Sudarmi, S., Rumintang, B. I., Anggraeni, N. P. D. A., & Halimatussyaadiah, S. (2025). Pelayanan Antenatal Terpadu Dengan Praktek Konseling Menyusui Meningkatkan Keberhasilan Menyusui Eksklusif.
Meldiyani, S. (2024). Penerapan Teknik Menyusui Dan Pelekatan Yang Tepat Untuk Keberhasilan Menyusui Terhadap Ny. K DI PMBJilly Punnica S. Tr. Keb Kabupaten Lampung SelatanTahun 2024 (Doctoral dissertation, Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang).
