Gaya pengasuhan permisif sering dipilih orang tua karena menekankan kehangatan, penerimaan, dan kebebasan bagi anak. Dalam pola ini, orang tua cenderung responsif terhadap kebutuhan emosional anak dan berusaha menghindari konflik. Namun, tanpa batasan yang jelas, pengasuhan permisif dapat menimbulkan tantangan dalam pembentukan disiplin dan kontrol diri anak.

Penelitian dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak yang dibesarkan dengan pola permisif murni berisiko mengalami kesulitan mengikuti aturan, mengelola emosi, dan menunda keinginan. Hal ini bukan berarti pola permisif selalu salah, tetapi perlu diterapkan secara adaptif dan seimbang. Orang tua perlu memahami kekeliruan umum agar kehangatan tetap hadir tanpa mengorbankan struktur yang dibutuhkan anak (Waty, et al., 2024). Berikut beberapa kekeliruan yang perlu dihindari dalam menerapkan gaya pengasuhan permisif:

1. Memberi kebebasan tanpa batas yang jelas
Kebebasan memang penting untuk eksplorasi anak, tetapi tanpa aturan dasar, anak bisa bingung memahami konsekuensi perilaku. Tetapkan aturan sederhana yang konsisten, seperti waktu tidur atau batas penggunaan gawai.

2. Menghindari semua bentuk disiplin
Sebagian orang tua permisif takut dianggap keras sehingga enggan memberi konsekuensi. Padahal, disiplin yang hangat dan konsisten membantu anak belajar tanggung jawab. Fokuslah pada konsekuensi yang mendidik, bukan hukuman yang menakutkan.

3. Terlalu sering menuruti keinginan anak
Memenuhi semua permintaan anak dapat membuat mereka sulit belajar menunda keinginan. Sesekali mengatakan “tidak” dengan empati justru membantu anak membangun kontrol diri dan toleransi terhadap frustrasi.

4. Kurang konsisten antara ucapan dan tindakan
Aturan yang berubah-ubah membuat anak sulit memahami batasan. Jika orang tua sudah menetapkan kesepakatan, usahakan untuk konsisten menjalankannya agar anak merasa lingkungan tetap dapat diprediksi.

5. Menggantikan peran anak dalam menyelesaikan masalah
Karena ingin membantu, orang tua permisif kadang terlalu cepat turun tangan. Beri anak kesempatan mencoba, gagal, dan belajar memecahkan masalah sesuai usianya.

Pengasuhan permisif dapat tetap menjadi pendekatan yang positif bila dipadukan dengan batasan yang sehat. Orang tua tidak perlu berubah menjadi kaku, tetapi cukup menambahkan konsistensi dan struktur dalam keseharian anak (Fatihah, et al., 2025).

Jika orang tua mulai melihat tanda seperti anak sulit diatur, mudah tantrum, atau menolak aturan, ini bisa menjadi sinyal untuk mengevaluasi pola pengasuhan. Dengan penyesuaian kecil namun konsisten, orang tua dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang hangat sekaligus bertanggung jawab.

Referensi
Fatihah, S. A., Dahlia, F., & Zubaidi, Z. (2025). Pola Asuh Permisif terhadap Prestasi Akademik Anak (Studi Kasus Pendekatan Kualitatif). JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 8(9), 10435-10443.
Waty, E. R. K., Hasanah, V. R., IP, S., Putri, R. M., Nengsih, Y. K., Alvi, R. R., ... & KM, S. (2024). Rumah Ramah Anak: Penerapan Pola Pengasuhan Positif. Bening Media Publishing.