Tangisan adalah cara utama bayi berkomunikasi mulai dari rasa lapar, lelah, tidak nyaman, hingga kebutuhan akan kedekatan dengan orang tua. Bagi orang tua baru, memahami arti dari setiap tangisan dapat terasa membingungkan, terutama pada minggu-minggu pertama kehidupan si kecil. Namun, dengan pengenalan bertahap, orang tua dapat belajar membedakan pola tangisan dan merespons kebutuhan bayi secara lebih tepat. Menurut penelitian oleh Herlinawati et al. (2025), respons cepat dan penuh kehangatan terhadap tangisan bayi berperan penting dalam perkembangan emosional dan rasa aman anak di masa awal kehidupan.
Salah satu langkah pertama adalah memperhatikan jenis dan intensitas tangisan. Tangisan karena lapar biasanya terdengar ritmis dan semakin keras jika tidak segera ditanggapi. Tangisan karena kelelahan cenderung diiringi gerakan menggosok mata atau menguap, sedangkan tangisan karena ketidaknyamanan bisa disebabkan popok basah atau suhu ruangan yang tidak pas. Studi oleh Surahman (2021) menunjukkan bahwa pola tangisan bayi memiliki ciri khas tersendiri, dan orang tua dapat belajar mengenalinya hanya dalam beberapa minggu melalui observasi konsisten.
Selain kebutuhan fisik, bayi juga menangis untuk memenuhi kebutuhan emosional dan sensorik. Banyak bayi menangis saat membutuhkan sentuhan lembut, pelukan, atau sekadar ingin digendong. Kontak kulit ke kulit terbukti mampu menurunkan tingkat stres pada bayi dan memperbaiki regulasi emosionalnya. Penelitian oleh Mardiyana (2025) menemukan bahwa bayi yang sering mendapatkan respons penuh perhatian akan lebih cepat tenang dan memiliki pola tidur yang lebih stabil.
Orang tua juga perlu mengingat bahwa tangisan bayi tidak selalu menandakan sesuatu yang salah. Terkadang bayi hanya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan dunia luar setelah sembilan bulan berada dalam kandungan. Dengan memberikan respon yang lembut, konsisten, dan penuh kasih sayang, orang tua dapat membantu bayi merasa aman. Memahami tangisan bayi adalah proses belajar yang alami dan seiring waktu, orang tua akan semakin terampil membaca sinyal kecil yang ditunjukkan bayi dalam setiap fase pertumbuhannya.
Referensi
Herliawati, P. A., Keb, S. T., Keb, M., Sriyanti, C., & Alvia, R. (2025). Buku Respon Orang Tua Terhadap Bayi Baru Lahir. Mahakarya Citra Utama Group.
Rina Mardiyana, S. S. T., Kes, B. M., Anisa, N., Keb, S. T., Keb, M., Damayanti, D. S., ... & Yusiana, M. A. (2025). Health Care" Growth And Development For Infant And Early Childhood". Nuansa Fajar Cemerlang.
Surahman, B. (2021). Korelasi Pola Asuh Attachment Parenting Terhadap Perkembangan Emosional Anak Usia Dini.
Salah satu langkah pertama adalah memperhatikan jenis dan intensitas tangisan. Tangisan karena lapar biasanya terdengar ritmis dan semakin keras jika tidak segera ditanggapi. Tangisan karena kelelahan cenderung diiringi gerakan menggosok mata atau menguap, sedangkan tangisan karena ketidaknyamanan bisa disebabkan popok basah atau suhu ruangan yang tidak pas. Studi oleh Surahman (2021) menunjukkan bahwa pola tangisan bayi memiliki ciri khas tersendiri, dan orang tua dapat belajar mengenalinya hanya dalam beberapa minggu melalui observasi konsisten.
Selain kebutuhan fisik, bayi juga menangis untuk memenuhi kebutuhan emosional dan sensorik. Banyak bayi menangis saat membutuhkan sentuhan lembut, pelukan, atau sekadar ingin digendong. Kontak kulit ke kulit terbukti mampu menurunkan tingkat stres pada bayi dan memperbaiki regulasi emosionalnya. Penelitian oleh Mardiyana (2025) menemukan bahwa bayi yang sering mendapatkan respons penuh perhatian akan lebih cepat tenang dan memiliki pola tidur yang lebih stabil.
Orang tua juga perlu mengingat bahwa tangisan bayi tidak selalu menandakan sesuatu yang salah. Terkadang bayi hanya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan dunia luar setelah sembilan bulan berada dalam kandungan. Dengan memberikan respon yang lembut, konsisten, dan penuh kasih sayang, orang tua dapat membantu bayi merasa aman. Memahami tangisan bayi adalah proses belajar yang alami dan seiring waktu, orang tua akan semakin terampil membaca sinyal kecil yang ditunjukkan bayi dalam setiap fase pertumbuhannya.
Referensi
Herliawati, P. A., Keb, S. T., Keb, M., Sriyanti, C., & Alvia, R. (2025). Buku Respon Orang Tua Terhadap Bayi Baru Lahir. Mahakarya Citra Utama Group.
Rina Mardiyana, S. S. T., Kes, B. M., Anisa, N., Keb, S. T., Keb, M., Damayanti, D. S., ... & Yusiana, M. A. (2025). Health Care" Growth And Development For Infant And Early Childhood". Nuansa Fajar Cemerlang.
Surahman, B. (2021). Korelasi Pola Asuh Attachment Parenting Terhadap Perkembangan Emosional Anak Usia Dini.
