Mengajarkan anak berbicara dalam dua bahasa sejak dini memiliki banyak manfaat, seperti melatih kemampuan berpikir, meningkatkan kepekaan bahasa, dan memudahkan anak belajar bahasa di kemudian hari. Anak usia dini memiliki kemampuan alami untuk menyerap lebih dari satu bahasa asalkan diberikan dengan cara yang tepat, konsisten, dan tanpa tekanan. Suasana yang hangat dan menyenangkan menjadi kunci utama agar anak tidak bingung atau tertekan (Widyastuti, 2025).
Salah satu cara yang paling dianjurkan adalah menggunakan bahasa secara konsisten dalam konteks tertentu. Misalnya, satu orang tua menggunakan satu bahasa, atau satu bahasa digunakan di rumah dan bahasa lainnya di luar rumah. Dengan cara ini, anak belajar membedakan kedua bahasa secara alami tanpa harus dipaksa menghafal.
Orang tua juga bisa mengenalkan dua bahasa melalui aktivitas sehari-hari seperti berbicara saat bermain, membaca buku cerita, atau bernyanyi. Gunakan kalimat sederhana dan ulangi kata-kata secara alami. Jika anak mencampur dua bahasa, orang tua tidak perlu langsung menegur, cukup ulangi kalimat tersebut dengan penggunaan bahasa yang benar (Deiniatur, 2017).
Yang terpenting, orang tua perlu bersabar dan tidak membandingkan kemampuan bahasa anak dengan anak lain. Setiap anak memiliki proses belajar yang berbeda. Dengan dukungan, pujian, dan interaksi yang rutin, anak akan tumbuh menjadi pembelajar dua bahasa yang percaya diri dan mampu berkomunikasi dengan baik (Librianty & Yennizar, 2025).
Referensi
Deiniatur, M. (2017). Pembelajaran bahasa pada anak usia dini Melalui cerita bergambar. Elementary: Jurnal Iilmiah Pendidikan Dasar, 3(2), 190-203.
Librianty, H. D., & Yennizar, N. (2025). Dari Bicara Hingga Literasi: Teknik Cerdas Untuk Pengembangan Bahasa Anak Usia Dini. Deepublish.
Widyastuti, A. (2025). Seni Berkomunikasi Dengan Bahasa Positif, Bahasa Yang Berdaya Membentuk Karakter Anak. Elex Media Komputindo.
Salah satu cara yang paling dianjurkan adalah menggunakan bahasa secara konsisten dalam konteks tertentu. Misalnya, satu orang tua menggunakan satu bahasa, atau satu bahasa digunakan di rumah dan bahasa lainnya di luar rumah. Dengan cara ini, anak belajar membedakan kedua bahasa secara alami tanpa harus dipaksa menghafal.
Orang tua juga bisa mengenalkan dua bahasa melalui aktivitas sehari-hari seperti berbicara saat bermain, membaca buku cerita, atau bernyanyi. Gunakan kalimat sederhana dan ulangi kata-kata secara alami. Jika anak mencampur dua bahasa, orang tua tidak perlu langsung menegur, cukup ulangi kalimat tersebut dengan penggunaan bahasa yang benar (Deiniatur, 2017).
Yang terpenting, orang tua perlu bersabar dan tidak membandingkan kemampuan bahasa anak dengan anak lain. Setiap anak memiliki proses belajar yang berbeda. Dengan dukungan, pujian, dan interaksi yang rutin, anak akan tumbuh menjadi pembelajar dua bahasa yang percaya diri dan mampu berkomunikasi dengan baik (Librianty & Yennizar, 2025).
Referensi
Deiniatur, M. (2017). Pembelajaran bahasa pada anak usia dini Melalui cerita bergambar. Elementary: Jurnal Iilmiah Pendidikan Dasar, 3(2), 190-203.
Librianty, H. D., & Yennizar, N. (2025). Dari Bicara Hingga Literasi: Teknik Cerdas Untuk Pengembangan Bahasa Anak Usia Dini. Deepublish.
Widyastuti, A. (2025). Seni Berkomunikasi Dengan Bahasa Positif, Bahasa Yang Berdaya Membentuk Karakter Anak. Elex Media Komputindo.
